Rabu, 09 Juli 2025

Urgensi Peran Ayah Dalam Tumbuh Kembang Anak

 

Apa itu fatherless?

Menurut Yupi Anesti dan Mirna Nur Alia Abdullah, fatherless adalah kondisi ketika peran ayah tidak hadir dalam pengasuhan anak, baik secara fisik maupun psikologis. 

Hal ini bisa terjadi karena berbagai alasan seperti perceraian, kematian, atau kurangnya keterlibatan ayah dalam kehidupan keluarga. Ketidakhadiran sosok ayah berdampak besar pada tumbuh kembang anak, baik secara emosional, sosial, hingga relasional.

Dalam keluarga yang masih menerapkan sistem patriarki, peran ibu lebih dominan dalam tugas domestik, sementara peran ayah seringkali diabaikan. Padahal, ayah seharusnya hadir tidak hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendidik, pembimbing, dan motivator bagi anak.

Fatherless bisa menjadi penyebab konflik dalam rumah tangga karena anak kehilangan figur panutan, dan hal ini bisa memicu perceraian. Namun,sebaliknya, fatherless juga bisa muncul setelah perceraian, ketika komunikasi dan pertemuan antara anak dan ayah jadi sangat minim.

Fenomena ini menunjukkan pentingnya keterlibatan ayah secara aktif dalam kehidupan anak, bukan hanya dalam hal materi, tetapi juga dalam perhatian, kasih sayang, dan komunikasi. Dalam keluarga yang sehat, semua anggota harus saling menjalankan peran agar tercipta hubungan yang seimbang dan harmonis.


Karena,

"Seorang ayah adalah pahlawan pertama bagi anak laki-laki nya dan cinta pertama bagi anak perempuan nya."


Mari redefinisi peran ayah dalam keluarga. Karena anak butuh panutan, bukan hanya penghidupan.


Referensi:

Anesti, Y., & Abdullah, M. N. A. (2024). Fenomena Fatherless: Penyebab dan Konsekuensi terhadap Anak dan Keluarga. WISSEN: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 2(2), 200–206. https://doi.org/10.62383/wissen.v2i2.105


Bagaimana sih Cara Mengatasi Anak Tantrum?



Sering kali kita belum tahu pasti bagaimana menghadapi anak yang sedang tantrum, apakah cukup didiamkan atau perlu pendekatan khusus?


Sebenarnya tantrum sendiri itu apa sih?

Tantrum adalah ledakan emosi yang wajar pada anak, terutama usia 1–4 tahun. Kuncinya bukan memadamkan emosi, melainkan mendampingi anak melewatinya.


Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan ketika anak tantrum:

1. Tetap Tenang

Anak meniru emosi kita. Semakin kita tenang, semakin cepat tantrum mereda. 

2. Berikan Validasi Emosi

Alih-alih berkata "Jangan marah!", coba katakan, "Kakak lagi marah, ya? Gak apa-apa merasa marah." Ini membantu anak mengenali perasaannya. 

3. Alihkan Perhatian

Pada awal tantrum, alihkan perhatian anak ke aktivitas lain sebelum emosi memuncak.

4. Tetapkan Batasan dengan Lembut

Contoh: "Mama tahu kamu marah, tapi tidak boleh memukul. Kalau mau, kita bisa pukul bantal ini."

5. Berikan Pelukan

Beberapa anak butuh pelukan agar mereka merasa aman saat tantrum, bukan justru dijauhkan.


Ingat! 
Tantrum bukan tanda anak nakal. Ini bagian dari proses belajar mengelola emosi.


Nah, itulah yang harus kita lakukan ketika melihat anak tantrum. Bukan didiamkan, melainkan didampingi.



Referensi: 
Siegel, D. J., & Bryson, T. P. (2011). The Whole-Brain Child. Gottman, J. (1997). Raising an Emotionally Intelligent Child.

Kenapa PAUD itu Penting?

 



Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah fondasi utama perkembangan anak secara menyeluruh yang mencakup aspek fisik, kognitif, sosial-emosional, dan moral. Anak usia 0–6 tahun berada pada masa golden age, di mana otaknya berkembang sangat cepat dan siap menyerap berbagai stimulasi. Waktu terbaik untuk menanamkan nilai, karakter dan kemampuan dasar.


Penelitian menunjukkan bahwa anak yang mengikuti PAUD berkualitas memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk berhasil di pendidikan formal dan kehidupan sosial (Heckman, 2006). 


PAUD bukan sekadar “tempat bermain”, tetapi ruang strategis anak untuk :

  • Berpikir dan memecahkan masalah
  • Bersosialisasi dan berempati 
  • Mengenal diri dan lingkungannya
  • Kesiapan untuk masuk pendidikan formal


Karena

“Investasi terbaik adalah pada pendidikan usia dini”

  — James Heckman —


Jadi, mari dukung PAUD yang bemutu karena masa depan bangsa dimulai dari usia dini!


Referensi:

Heckman, J. J. (2006). Skill formation and the economics of investing in disadvantaged children. Science, 312(5782), 1900–1902. doi:10.1126/science.1128898


Kesalahan Parenting yang Sering Tidak Disadari

Seringkali orang tua ingin memberikan yang terbaik bagi anak. Namun tanpa disadari, pola asuh yang tidak tepat justru dapat berdampak pada p...