Apa itu fatherless?
Menurut Yupi Anesti dan Mirna Nur Alia Abdullah, fatherless adalah kondisi ketika peran ayah tidak hadir dalam pengasuhan anak, baik secara fisik maupun psikologis.
Hal ini bisa terjadi karena berbagai alasan seperti perceraian, kematian, atau kurangnya keterlibatan ayah dalam kehidupan keluarga. Ketidakhadiran sosok ayah berdampak besar pada tumbuh kembang anak, baik secara emosional, sosial, hingga relasional.
Dalam keluarga yang masih menerapkan sistem patriarki, peran ibu lebih dominan dalam tugas domestik, sementara peran ayah seringkali diabaikan. Padahal, ayah seharusnya hadir tidak hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendidik, pembimbing, dan motivator bagi anak.
Fatherless bisa menjadi penyebab konflik dalam rumah tangga karena anak kehilangan figur panutan, dan hal ini bisa memicu perceraian. Namun,sebaliknya, fatherless juga bisa muncul setelah perceraian, ketika komunikasi dan pertemuan antara anak dan ayah jadi sangat minim.
Fenomena ini menunjukkan pentingnya keterlibatan ayah secara aktif dalam kehidupan anak, bukan hanya dalam hal materi, tetapi juga dalam perhatian, kasih sayang, dan komunikasi. Dalam keluarga yang sehat, semua anggota harus saling menjalankan peran agar tercipta hubungan yang seimbang dan harmonis.
Karena,
"Seorang ayah adalah pahlawan pertama bagi anak laki-laki nya dan cinta pertama bagi anak perempuan nya."
Mari redefinisi peran ayah dalam keluarga. Karena anak butuh panutan, bukan hanya penghidupan.
Referensi:
Anesti, Y., & Abdullah, M. N. A. (2024). Fenomena Fatherless: Penyebab dan Konsekuensi terhadap Anak dan Keluarga. WISSEN: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 2(2), 200–206. https://doi.org/10.62383/wissen.v2i2.105


.jpeg)