Sabtu, 11 April 2026

Kesalahan Parenting yang Sering Tidak Disadari



Seringkali orang tua ingin memberikan yang terbaik bagi anak. Namun tanpa disadari, pola asuh yang tidak tepat justru dapat berdampak pada perkembangan kepribadian anak.

Anak belajar dari lingkungan terdekatnya, terutama keluarga. Pola asuh yang kurang tepat seperti terlalu keras, terlalu membebaskan, atau kurang responsif dapat memunculkan perilaku negatif pada anak, seperti kurang disiplin, agresif, hingga rendahnya kepedulian sosial.

Berikut beberapa kesalahan parenting yang sering tidak disadari:

1. Mengabaikan perasaan anak

Sering melarang anak menangis atau tidak mendengarkan emosinya membuat anak kesulitan memahami dan mengelola perasaan. 

2. Terlalu menuntut dan memaksa anak

Menuntut anak selalu berhasil tanpa memberi ruang gagal dapat menyebabkan stres, tekanan mental, bahkan kehilangan motivasi. 

3. Tidak konsisten dalam aturan

Aturan yang berubah-ubah membuat anak bingung, sehingga sulit belajar disiplin dan tanggung jawab. 

4. Terlalu memanjakan anak

Selalu menuruti keinginan anak dapat membuat anak bergantung dan kurang mandiri. 

5. Membandingkan anak dengan orang lain

Hal ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan membuat anak merasa tidak cukup baik. 

6. Pola asuh yang tidak seimbang (terlalu keras / terlalu bebas / kurang responsif)

Pola asuh seperti ini dapat memicu perilaku negatif seperti agresif, kurang disiplin, dan kurang peduli terhadap lingkungan sosial.

7. Parenting yang bersifat “toxic”

Perilaku orang tua yang suka memaksa, merendahkan, atau terlalu mengontrol dapat berdampak pada trauma dan pembentukan karakter negatif anak. 

Penutup

Kesalahan dalam parenting sering terjadi tanpa disadari. Oleh karena itu, orang tua perlu menerapkan pola asuh yang seimbang, penuh perhatian, dan konsisten agar anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara emosional dan sosial.

Referensi

Putri, A. S., Ismaniar, & Putri, L. D. (2025). Kesalahan Umum dalam Pola Asuh Anak dan Dampaknya terhadap Perkembangan. Jurnal Dewantara. https://doi.org/10.30640/dewantara.v4i4.5609

Kholifah, S., et al. (2024). Pengaruh Toxic Orang Tua terhadap Karakter dan Moralitas Anak. Community Development Journal.

Nurrahman, R. A., & Khadijah, U. (2025). Studi mendalam tentang dampak asuhan orang tua yang tidak tepat pada perkembangan kepribadian anak. Journal of Mental Health Concrens. https://e-jurnal.iphorr.com/index.php/mhc

Sabtu, 07 Maret 2026

Tips And Trik Parenting Anak

Seringkali kita berpikir bahwa pendidikan anak adalah tugas guru di sekolah. Tapi sebenarnya, siapa guru pertama anak? Ya, orang tua!

Anak belajar dari apa yang ia lihat dan rasakan setiap hari. Karena itu, peran orang tua sangat penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Berikut ada beberapa tips and trick parenting anak usia dini untuk orang tua.

1. Sudahkah kita menunjukkan kasih sayang hari ini?

Pelukan, pujian, dan perhatian kecil dapat membuat anak merasa dicintai dengan aman.

2. Apakah anak punya rutinitas yang jelas?

Rutinitas sederhana seperti waktu makan, bermain, dan tidur membantu anak belajar disiplin.

3. Bagaimana cara kita berbicara pada anak?

Gunakan suara yang lembut dan kata-kata yang positif agar anak merasa dihargai dan sebisa mungkin hindari penggunaan kata “jangan” untuk anak.

4. Sudahkah anak diajak belajar sambil bermain?

Bermain, membaca cerita, atau menggambar bisa menjadi stimulasi yang menyenangkan bagi perkembangan anak.

5. Apakah kita sudah mendengarkan anak?

Biarkan anak bercerita, mengungkapkan pendapatnya, dan respon dengan baik agar ia belajar percaya diri.

6. Pengasuhan tanpa kekerasan

Anak akan berkembang lebih baik ketika dibimbing dengan sabar, bukan dengan bentakan atau hukuman keras. Sekali atau dua kali penggunaan hukuman dapat dilakukan, tetapi dengan hukuman yang ringan untuk membuat pengertian kepada anak.

Ingat: Anak tidak hanya akan mendengar nasihat kita saja, mereka meniru apa yang kita lakukan.


referensi:

Permatasari, R. F., Dewi, D. K., & Rusdi, H. H. (2024). Positive Parenting dalam Mendidik Anak Masa Kini Perspektif Quraish Shihab. CONS-EDU: Islamic Guidance and Counseling Journal.


Zuraida, D. J., Asih, M. T., & Fikrianto, M. (2024). Penyuluhan Cara Mendidik Anak Sesuai Dengan Tahap Perkembangan di Dusun Karangmojo, Gunungkidul. Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara, 6(3), 67–74. https://doi.org/10.57214/pengabmas.v6i3.578

Rabu, 09 Juli 2025

Urgensi Peran Ayah Dalam Tumbuh Kembang Anak

 

Apa itu fatherless?

Menurut Yupi Anesti dan Mirna Nur Alia Abdullah, fatherless adalah kondisi ketika peran ayah tidak hadir dalam pengasuhan anak, baik secara fisik maupun psikologis. 

Hal ini bisa terjadi karena berbagai alasan seperti perceraian, kematian, atau kurangnya keterlibatan ayah dalam kehidupan keluarga. Ketidakhadiran sosok ayah berdampak besar pada tumbuh kembang anak, baik secara emosional, sosial, hingga relasional.

Dalam keluarga yang masih menerapkan sistem patriarki, peran ibu lebih dominan dalam tugas domestik, sementara peran ayah seringkali diabaikan. Padahal, ayah seharusnya hadir tidak hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendidik, pembimbing, dan motivator bagi anak.

Fatherless bisa menjadi penyebab konflik dalam rumah tangga karena anak kehilangan figur panutan, dan hal ini bisa memicu perceraian. Namun,sebaliknya, fatherless juga bisa muncul setelah perceraian, ketika komunikasi dan pertemuan antara anak dan ayah jadi sangat minim.

Fenomena ini menunjukkan pentingnya keterlibatan ayah secara aktif dalam kehidupan anak, bukan hanya dalam hal materi, tetapi juga dalam perhatian, kasih sayang, dan komunikasi. Dalam keluarga yang sehat, semua anggota harus saling menjalankan peran agar tercipta hubungan yang seimbang dan harmonis.


Karena,

"Seorang ayah adalah pahlawan pertama bagi anak laki-laki nya dan cinta pertama bagi anak perempuan nya."


Mari redefinisi peran ayah dalam keluarga. Karena anak butuh panutan, bukan hanya penghidupan.


Referensi:

Anesti, Y., & Abdullah, M. N. A. (2024). Fenomena Fatherless: Penyebab dan Konsekuensi terhadap Anak dan Keluarga. WISSEN: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 2(2), 200–206. https://doi.org/10.62383/wissen.v2i2.105


Bagaimana sih Cara Mengatasi Anak Tantrum?



Sering kali kita belum tahu pasti bagaimana menghadapi anak yang sedang tantrum, apakah cukup didiamkan atau perlu pendekatan khusus?


Sebenarnya tantrum sendiri itu apa sih?

Tantrum adalah ledakan emosi yang wajar pada anak, terutama usia 1–4 tahun. Kuncinya bukan memadamkan emosi, melainkan mendampingi anak melewatinya.


Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan ketika anak tantrum:

1. Tetap Tenang

Anak meniru emosi kita. Semakin kita tenang, semakin cepat tantrum mereda. 

2. Berikan Validasi Emosi

Alih-alih berkata "Jangan marah!", coba katakan, "Kakak lagi marah, ya? Gak apa-apa merasa marah." Ini membantu anak mengenali perasaannya. 

3. Alihkan Perhatian

Pada awal tantrum, alihkan perhatian anak ke aktivitas lain sebelum emosi memuncak.

4. Tetapkan Batasan dengan Lembut

Contoh: "Mama tahu kamu marah, tapi tidak boleh memukul. Kalau mau, kita bisa pukul bantal ini."

5. Berikan Pelukan

Beberapa anak butuh pelukan agar mereka merasa aman saat tantrum, bukan justru dijauhkan.


Ingat! 
Tantrum bukan tanda anak nakal. Ini bagian dari proses belajar mengelola emosi.


Nah, itulah yang harus kita lakukan ketika melihat anak tantrum. Bukan didiamkan, melainkan didampingi.



Referensi: 
Siegel, D. J., & Bryson, T. P. (2011). The Whole-Brain Child. Gottman, J. (1997). Raising an Emotionally Intelligent Child.

Kenapa PAUD itu Penting?

 



Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah fondasi utama perkembangan anak secara menyeluruh yang mencakup aspek fisik, kognitif, sosial-emosional, dan moral. Anak usia 0–6 tahun berada pada masa golden age, di mana otaknya berkembang sangat cepat dan siap menyerap berbagai stimulasi. Waktu terbaik untuk menanamkan nilai, karakter dan kemampuan dasar.


Penelitian menunjukkan bahwa anak yang mengikuti PAUD berkualitas memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk berhasil di pendidikan formal dan kehidupan sosial (Heckman, 2006). 


PAUD bukan sekadar “tempat bermain”, tetapi ruang strategis anak untuk :

  • Berpikir dan memecahkan masalah
  • Bersosialisasi dan berempati 
  • Mengenal diri dan lingkungannya
  • Kesiapan untuk masuk pendidikan formal


Karena

“Investasi terbaik adalah pada pendidikan usia dini”

  — James Heckman —


Jadi, mari dukung PAUD yang bemutu karena masa depan bangsa dimulai dari usia dini!


Referensi:

Heckman, J. J. (2006). Skill formation and the economics of investing in disadvantaged children. Science, 312(5782), 1900–1902. doi:10.1126/science.1128898


Jumat, 27 Juni 2025

Menilik Lebih Jauh Kuliah Jurusan PG PAUD


Jurusan PG PAUD itu apa sih??

Kuliah Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) merupakan program studi yang fokus pada pengembangan kemampuan pendidik dalam mengajar anak usia dini, yaitu anak-anak yang berada dalam rentang usia 0-8 tahun. Program ini mencakup berbagai aspek yang berkaitan dengan perkembangan anak, metode pengajaran, psikologi, serta kebijakan pendidikan.


Lalu belajar tentang apa saja?

1. Pengembangan Kurikulum

Mahasiswa belajar tentang bagaimana merancang kurikulum yang sesuai untuk anak usia dini, dengan mempertimbangkan aspek perkembangan fisik, emosional, sosial, dan kognitif.

2. Metode Pembelajaran

Pengetahuan tentang berbagai metode pembelajaran yang efektif untuk anak usia dini, termasuk pembelajaran berbasis permainan.

3. Psikologi Anak

Memahami perkembangan psikologis anak dan cara-cara untuk mendukung pertumbuhan mereka.

4. Seni dan Kreativitas

Mengajarkan pentingnya seni dan kreativitas dalam pembelajaran anak.

5. Pengelolaan Kelas

Keterampilan dalam mengelola kelas yang efektif dan mendukung lingkungan belajar yang positif.


Kalau lulus pasti jadi Guru PAUD?

Lulus kuliah PG Paud tidak selalu jadi Guru Paud loh! Prospek karier lulusan PG PAUD dapat bekerja sebagai:

  • Pengajar di lembaga non formal, seperti sanggar anak, les privat, dsb.
  • Penulis buku anak.
  • Psikolog anak.
  • Terapis wicara anak.
  • Pengembang kurikulum pendidikan anak.
  • Peneliti di bidang pendidikan anak.
  • Konsultan pendidikan bagi institusi yang berfokus pada anak.


Nah, itu adalah gambaran kecil kalau kamu jadi mahasiswa PG PAUD! Menarik bukan?


Referensi:

https://dikdasmen.kemdikbud.go.id/ 



Kesalahan Parenting yang Sering Tidak Disadari

Seringkali orang tua ingin memberikan yang terbaik bagi anak. Namun tanpa disadari, pola asuh yang tidak tepat justru dapat berdampak pada p...